September 11, 2026

Studi Baru: Panas Ekstrem Berkaitan dengan Gangguan Mental hingga Gagal Ginjal

0
2149101374jpg-20251019072849

Nationalgeographic.co.id—Panas ekstrem bukan sekadar membuat tubuh kehilangan cairan. Ketika suhu melonjak, dampaknya terhadap kesehatan ternyata bisa jauh lebih luas, bahkan berkaitan dengan gangguan mental, gagal ginjal, kecelakaan lalu lintas, hingga tindak kekerasan.

Temuan itu terungkap dalam sebuah studi baru dari Northwestern University. Para peneliti menemukan 33 diagnosis medis yang berkaitan dengan paparan panas ekstrem.

Sebagian kondisi tersebut mungkin terdengar tidak lazim jika dikaitkan dengan cuaca panas. Namun, analisis data kesehatan menunjukkan adanya hubungan antara hari-hari dengan suhu ekstrem dan meningkatnya sejumlah diagnosis tersebut.

Studi yang makalahnya telah terbit di jurnal Science Advances pada 26 Agustus 2026 itu menganalisis 1.803 diagnosis dari hampir 1 juta kunjungan pasien ke unit gawat darurat (UGD) dan klinik layanan darurat (urgent care clinic) di Chicago, Amerika Serikat, selama Mei hingga September pada periode 2011–2023.

Makalah studi itu bertajuk “Identifying heat-related diagnoses in emergency department visits among adults in Chicago: A heat-wide association study“. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa ancaman panas ekstrem tidak hanya berupa dehidrasi atau serangan panas (heat stroke).

“Jika kita hanya melacak penyakit yang selama ini dikenal sebagai penyakit akibat panas, kita akan meremehkan beban kesehatan sebenarnya yang ditimbulkan oleh panas ekstrem. Akibatnya, masyarakat dan kelompok rentan bisa terabaikan,” kata Hyojung Jang, kandidat doktor bidang biostatistika di Feinberg School of Medicine, Northwestern University, yang merupakan penulis utama studi ini.

Sebanyak 33 diagnosis yang berkaitan dengan panas

Para peneliti dalam studi ini menemukan hubungan antara panas ekstrem dan berbagai kondisi kesehatan. Di antaranya adalah gangguan kulit, gagal ginjal akut, sklerosis multipel (multiple sclerosis), serta gangguan mental dan perilaku.

Panas ekstrem juga berkaitan dengan meningkatnya diagnosis yang berhubungan dengan gigitan atau sengatan serangga, kecelakaan lalu lintas, penyerangan, dan cedera akibat senjata api.

Temuan ini memperluas cara pandang mengenai dampak cuaca panas. Selama ini, pembahasan mengenai kesehatan akibat suhu tinggi umumnya berfokus pada kondisi seperti kelelahan akibat panas (heat exhaustion) dan serangan panas (heat stroke).

Padahal, dampak panas ekstrem dapat muncul melalui berbagai mekanisme dan tidak selalu langsung terlihat sebagai penyakit akibat suhu tinggi.

Ilustrasi panas ekstrem.

Unsplash / Public Domain

Ilustrasi panas ekstrem.

Mengapa panas berkaitan dengan kecelakaan dan tindak kekerasan?

Salah satu pertanyaan menarik dari penelitian ini adalah hubungan antara panas ekstrem dan kecelakaan maupun tidak kekerasan.

Daniel Horton, associate professor bidang ilmu kebumian, lingkungan dan planet di Northwestern University yang turut terlibat dalam studi ini, mengatakan panas ekstrem dapat memberikan tekanan terhadap tubuh sekaligus pikiran.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika orang terpapar panas ekstrem, mereka cenderung bertindak lebih agresif, sehingga hal ini mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya,” ujar Horton dalam keterangan tertulis Northwestern University.

Horton kemudian menjelaskan, “Ketika cuaca panas, tubuh kita mengalami stres dan pikiran kita juga mengalami stres. Hal itu dapat membuat seseorang terdistraksi atau lebih mudah tersulut, dan pada akhirnya bisa menyebabkan lebih banyak kecelakaan.”

Dengan demikian, dampak suhu tinggi tidak selalu berupa gangguan fisik secara langsung. Panas juga dapat memengaruhi konsentrasi, kondisi psikologis, dan perilaku seseorang.

Peneliti menggunakan cara berbeda

Untuk menemukan berbagai dampak tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan yang berbeda dari penelitian panas dan kesehatan pada umumnya.

Alih-alih menentukan sejak awal penyakit apa yang ingin dicari, mereka menggunakan pendekatan berbasis data untuk melihat pola yang muncul dari catatan kesehatan.

Data klinis dari jaringan kesehatan CAPriCORN di Chicago dihubungkan dengan data iklim berdasarkan lokasi dan waktu. Dengan cara itu, peneliti dapat membandingkan berbagai diagnosis yang muncul ketika terjadi suhu ekstrem.

Abel Kho, direktur Institute for AI in Medicine di Northwestern University sekaligus salah satu peneliti dalam studi ini, mengatakan pendekatan tersebut membantu peneliti melihat dampak panas dari sudut pandang yang lebih luas.

“Dengan menggunakan metode baru untuk menghubungkan data klinis dengan data iklim berdasarkan tempat dan waktu, kita dapat lebih memahami bagaimana panas ekstrem dapat memengaruhi kesehatan orang-orang yang berisiko,” kata Kho.

Sufiyanto, warga Kampung Galur di Jakarta Pusat, merasakan tempat tinggalnya kian panas. Dia berdiri berlatar belakang tempat pendingin komunal yang dibangun di kolong menara sutet.

Donny Fernando / National Geographic Indonesia

Sufiyanto, warga Kampung Galur di Jakarta Pusat, merasakan tempat tinggalnya kian panas. Dia berdiri berlatar belakang tempat pendingin komunal yang dibangun di kolong menara sutet.

Suhu minimal 33,7 derajat Celsius

Penelitian ini melibatkan 372.140 orang dewasa yang menjalani perawatan di unit gawat darurat atau klinik layanan darurat.

Selama periode penelitian, para peneliti mengidentifikasi 100 hari dengan suhu ekstrem. Hari ekstrem tersebut didefinisikan sebagai hari ketika suhu mencapai sedikitnya 92,6 derajat Fahrenheit atau sekitar 33,7 derajat Celsius.

Juli menjadi bulan dengan jumlah hari panas ekstrem terbanyak, yakni 36 persen dari keseluruhan hari ekstrem. Berikutnya Agustus 25 persen, Juni 23 persen, September 12 persen, dan Mei 4 persen.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana episode panas ekstrem dapat berulang selama musim panas dan berpotensi meningkatkan beban terhadap fasilitas kesehatan.

Sistem kesehatan perlu lebih bersiap

Temuan penelitian ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap gelombang panas dan perubahan iklim.

Bagi sistem kesehatan, menghadapi gelombang panas bukan hanya soal menyiapkan penanganan bagi pasien serangan panas. Berbagai kondisi lain yang berkaitan dengan suhu ekstrem juga perlu diperhitungkan.

Chicago memiliki pengalaman panjang menghadapi bahaya panas ekstrem. Pada 1995, gelombang panas di kota tersebut menyebabkan 739 kematian berlebih yang berkaitan dengan panas.

Peristiwa itu kemudian mendorong pengembangan Indeks Kerentanan Panas Chichago (Chicago Heat Vulnerability Index), yang digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang paling rentan terhadap panas.

Indeks tersebut, antara lain, membantu Chicago Park District menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan untuk peningkatan fasilitas pendingin udara.

Namun, studi baru ini menunjukkan bahwa perlindungan masyarakat dari panas membutuhkan pendekatan yang lebih luas.

Kelompok kerja Defusing Disasters di Chicago, misalnya, telah mengusulkan sekitar 30 kebijakan untuk mengurangi dampak panas ekstrem.

Penanaman pohon untuk meningkatkan keteduhan, penambahan tempat teduh di halte bus, perlindungan bagi pekerja luar ruangan, serta memastikan rumah memiliki fasilitas pendingin yang memadai menjadi bagian dari berbagai upaya yang dapat dilakukan.

Panas ekstrem bukan ancaman yang sederhana

Para peneliti menilai metode yang digunakan dalam studi ini tidak hanya dapat diterapkan di Chicago. Pendekatan serupa dapat digunakan di di kota, negara bagian, atau negara mana pun untuk mengidentifikasi dampak kesehatan akibat suhu ekstrem.

Data yang digunakan juga dapat diperluas dengan memasukkan sumber lain, seperti catatan kematian dan panggilan ambulans.

Bagi Horton, salah satu langkah paling penting tetap sederhana: mengurangi paparan terhadap panas.

“Karena kita tahu ada hubungan antara panas ekstrem dan sejumlah masalah kesehatan, mengurangi paparan terhadap panas sangatlah penting,” katanya.

Pesan dari studi ini pun jelas. Panas ekstrem bukan hanya persoalan rasa haus, dehidrasi, atau serangan panas Ketika suhu melonjak, dampaknya dapat merambat ke berbagai aspek kesehatan dan keselamatan manusia—bahkan pada kondisi yang sebelumnya tidak dianggap berkaitan dengan panas.

Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranalaWhatsApp ChanneldanGoogle News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *