jumlah pohon di Bumi lebih banyak daripada jumlah bintang di Galaksi Bima sakti
Ilmuwan meyakini bahwa jumlah pohon di Bumi lebih banyak daripada jumlah bintang di Galaksi Bima sakti. Berdasarkan data estimasi global, jumlah pohon di planet kita diperkirakan mencapai sekitar 3 triliun. Angka ini jauh melampaui data NASA yang memperkirakan jumlah bintang di galaksi Bima Sakti hanya berkisar antara 100 hingga 400 miliar. Artinya, jika menggunakan batas tertinggi dari estimasi tersebut, jumlah pohon di Bumi tetap lebih banyak, bahkan mencapai lebih dari tujuh kali lipat dari jumlah bintang di galaksi kita. Namun, di balik perbandingan yang menarik ini, bagaimana para ilmuwan sebenarnya mendapatkan angka-angka fantastis
Dari mana angka 3 triliun pohon berasal
Dilansir dari Space Daily, Minggu (31/5/2026), data mengenai keberadaan 3 triliun pohon di Bumi ini tergolong modern dan berhasil mengubah cara pandang dunia terhadap kekayaan alam planet kita.

Angka ini merujuk pada sebuah studi komprehensif yang dipimpin oleh Thomas Crowther dan dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature pada tahun 2015. Studi tersebut secara spesifik mencatat total pohon di dunia berada di angka sekitar 3,04 triliun. Sebelum studi Crowther dipublikasikan, estimasi global yang sering diulang-ulang hanya berkisar di angka ratusan miliar saja. Perhitungan lama tersebut murni hanya mengandalkan citra satelit dan kalkulasi luas wilayah hutan. Peningkatan angka yang signifikan pada studi 2015 terjadi karena tim peneliti menambahkan lebih dari 400.000 data pengukuran kepadatan pohon langsung di lapangan (berbasis darat) untuk melengkapi pencitraan satelit. Metode gabungan inilah yang berhasil mengungkap fakta di lapangan yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh pantauan satelit dari atas. Oleh karena itu, angka 3 triliun ini harus dipahami sebagai estimasi yang cermat dari sebuah metodologi studi, bukan sebuah hasil sensus atau hitungan pasti satu per satu.
Mengapa jumlah bintang menggunakan skala jarak (rentang)?
Di sisi lain, jumlah bintang di Bima Sakti ditulis dalam bentuk rentang angka (100 hingga 400 miliar), bukan sebuah angka pasti. Ketidakpastian ini bukanlah bentuk kelalaian para astronom, melainkan refleksi dari tantangan nyata dalam mengukur objek luar angkasa. Hingga saat ini, tidak ada satu pun astronom yang menghitung bintang di Bima Sakti satu demi satu. Debu kosmik yang tebal menghalangi sebagian besar pandangan kita terhadap galaksi, dan banyak bintang terletak terlalu jauh untuk bisa diamati secara individual. Sebagai gantinya, para astronom menggunakan metode tidak langsung: Mengestimasi total massa galaksi Bima Sakti. Menghitung berapa banyak dari massa tersebut yang berbentuk bintang. Membagi hasil tersebut dengan massa rata-rata sebuah bintang. Langkah terakhir inilah yang memicu munculnya rentang angka yang lebar. Jenis bintang yang paling umum di galaksi kita adalah bintang kerdil merah (red dwarfs) yang redup dan bermassa rendah. Karena cahayanya sangat lemah, bintang-bintang ini sangat mudah terlewat dari perhitungan. Sedikit saja ketidakpastian dalam menghitung jumlah kerdil merah ini akan berdampak besar pada total keseluruhan bintang. Meskipun misi Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA) telah berhasil memetakan posisi lebih dari satu miliar bintang, satelit canggih tersebut tetap tidak mampu melihat bintang-bintang yang paling redup. Akibatnya, angka total bintang di galaksi kita tetap bertahan dalam bentuk rentang estimasi.
Perbandingan yang hanya berlaku di skala galaksi kita
Penting untuk dicatat bahwa perbandingan ini menjadi valid karena secara spesifik membatasi areanya pada hanya “Galaksi Bima Sakti”. Jika sudut pandang kita diperluas ke seluruh alam semesta yang teramati (observable universe), jumlah pohon di Bumi jelas kalah telak. Berdasarkan estimasi berbasis teleskop Hubble yang didiskusikan oleh NASA, alam semesta yang teramati diperkirakan menampung sekitar 2 triliun galaksi. Secara total, NASA memperkirakan alam semesta dapat menampung hingga 1 septiliun bintang (angka 1 yang diikuti oleh 24 angka nol). Jika dibandingkan dengan angka 1 septiliun tersebut, 3 triliun pohon di Bumi nyaris tak berarti secara statistik
Namun, Bumi kehilangan 15 miliar pohon per tahun

Di balik fakta sains yang mengagumkan ini, ada satu poin krusial dari studi Crowther yang sering kali luput dibahas ketika orang-orang membagikan trivia unik ini. Studi ilmiah tersebut mengestimasi bahwa jumlah pohon di Bumi sebenarnya telah merosot tajam sekitar 46 persen semenjak dimulainya peradaban manusia. Tidak hanya itu, data menunjukkan bahwa lebih dari 15 miliar pohon hilang atau ditebang setiap tahunnya.
Dengan kata lain, jumlah 3 triliun pohon yang tersisa saat ini hanyalah setengah dari total pohon yang pernah berdiri tegak di Bumi. Sebuah fakta menyenangkan, memang, mengetahui bahwa pohon di Bumi mengalahkan jumlah bintang di galaksi kita. Sayangnya, fakta itu harus berdampingan dengan realitas pahit mengenai tingginya laju deforestasi global saat ini.
